Kontemplasi untuk 2017

Detik-detik terakhir jelang tutup tahun rasanya pengen hidup ini diulang ke lima tahun kebelakang, mulai dari masuk kuliah dulu. Sempat merasa kecewa dengan proses yang telah berjalan ini, rasa-rasanya masa penggodokan dibangku kuliah banyak yang sia-sia. Sampe sekarang rasanya masih menjadi sarjana sampah, yang lantang lantung kaya daun jatuh ketiup angin. Kenyataan sekarang ini justru sangat jauh dengan idealisme jauh-jauh hari yang lalu, yang idealnya setelah lulus langsung berkelana malah yang ada sekarang sekedar menentukan langkah pertama aja kebingungan. Baiknya ngapain ya biar ngga nyampah? Ga kerasa udah free setengah tahun, kelewat free parah. Tapi, ah sudahlah 😦

Dari pada capek hati meratapi ketidak berdayaan ini, nanti malah stress cepet tua. Ada baiknya memotivasi diri sendiri biar ga lelah untuk terus mencari, yakin aja kalo Allah ga jahat. Pokoknya apapun yang dibutuhkan pasti bakalan dapet, pasti nemu. Mungkin ditahun ganjil semua akan terjawab, waktu akan berpihak ☺
Continue reading “Kontemplasi untuk 2017”

Balada sang Ibu Mertua

Perih rasanya membaca sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman melalui salah satu grup chating ini, dapat kubayangkan bagaimana perasaan seorang ibu jika dilupakan oleh anak laki-lakinya selepas menikah. Terlebih jika sang anak adalah seseorang yang digadang-gadang dapat menjadi tulang punggung keluarga menggantikan sang ayah yang kian menua, yang tak mungkin terus menerus bekerja menopang kebutuhan keluarga. Meskipun menikah diusia muda bagi seorang anak laki-laki pertama bukanlah hal yang salah, hanya saja keadaan dipandang lain ketika yang terjadi justru sang anak terlalu sibuk bersama rumah tangganya sementara orang tuanya membutuhkan uluran tangannya.

​”PILIH AKU ATAU IBUMU”
Continue reading “Balada sang Ibu Mertua”

Damai tapi Gersang

Semesta seolah menghakimi kesalahan atas hidup yang tak kunjung berubah, tapi hatipun kadang berbalik menuntut kenapa hidup begitu kejam. Apakah semua ini murni atas kesalahanku, sementara diluar sana berapa banyak pendosa yang tetap diberi jalan untuk hidupnya. Apakah aku ini yang terburuk diantara kesemuanya? Hingga hidup enggan berpihak padaku. Apalah aku ini, hanya seorang anak yang terjebak dalam masa transisi. Tidakkah hidup ini memberikanku kesempatan untuk perlahan saja memulai kewajibanku dengan santai, tapi kenapa beban hidup seolah mengejarku, memaksaku bahwa aku tidak punya banyak waktu lagi.
Kenapa hidup ini terus mengincarku apakah benar bahwa selama ini telah banyak waktu kuhabiskan dalam kemalasan, banyak kesempatan terlewatkan, selama ini ternyata tidak banyak hal berguna yang kulakukan. Tapi bukankah sudah kubilang, tak bisakah kumulai semua ini dengan perlahan saja, meski rasa penat dan tumpukan energi berlebih dalam raga mulai menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa ‘tidak berguna’ dan rutinitas tidak produktif kian membuat sesak didada, namun logika hanya sebatas bertanya “ada apa?“. Ada apa dengan hidup yang nyata ini, bagaimana dengan pertanyaan 5W+1H yang belum dapat terpecahkan.

Sumber: Instagram

Continue reading “Damai tapi Gersang”

Kalimat Indah

         نحن لا نملك تغییر الماضي 
Kita tidak bisa merubah apa yang telah terjadi
            و لا رسم المستقبل .. 
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
         فلماذا نقتل انفسنا حسرة
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan?
        على شيئ لا نستطیع تغییره؟
Atas apa yg sudah tidak bisa kita rubah

  الحیاه قصیرة وأهدافها كثيرة
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
             فانظر الى السحاب 
           و لا تنظر الى التراب .. 
Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah
           اذا ضاقت بك الدروب 
             فعلیك بعلام الغیوب 
Kalau merasa jalan sudah sempit, kembalilah ke Allah yg Maha Mengetahui yg gaib! 
      و قل الحمدلله على كل شيئ 
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja
 سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص
Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang
وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد
Sedang kapal Nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang
  الأولى غرقت والثانية حملت البشرية
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia Continue reading “Kalimat Indah”

Aku Salah Menilai Kemurahan Hati-Nya

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Bicara mengenai hati dari sudut pandang agama, adalah bicara bagaimana kita mengimani suatu keyakinan dan melaksanakan ketaatan pada sang Raja Kehidupan. Berikut adalah sebuah renungan agar khawatirlah apabila dalam benak kita tak sedikitpun rasa cemas menghampiri, jangan-jangan hati kita memang sudah mati. Kita perlu renungkan, bagaimana kemurahan hati-Nya selama ini kita sikapi. Apakah justru kita semakin lalai dan terlena, ataukah tersungkur malu atas ketidak-tahu-diri-an kita sebagai hamba yang sering melalaikan hak-Nya. Tulisan ini hanya meneruskan sebuah pesan dari sumber lain, semoga kita termasuk orang-orang yang hatinya selalu hidup.

Seorang murid mengadu kepada gurunya:

Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita“.
Sang Guru menjawab dengan tenang:
Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa“.
Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: sedikitnya taufiq  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan“.
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya“. Sebagai contoh:
Continue reading “Aku Salah Menilai Kemurahan Hati-Nya”

#part5 Self Controlling

#part sebelumnya sudah banyak dibahas mengenai pikiran dan seperangkatnya, dan siapa lagi yang mengendalikan pikiran jika bukan diri sendiri. Maka pandai-pandailah mengontrol diri. Pepatah bilang, orang hebat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain. Melainkan orang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya, dalam situasi apapun. Jujur saja dari pengalaman pribadi, saya lelah. Meskipun masalah anak umur 22tahun bisa dibilang belum terlalu rumit, hanya sebatas cinta dan jati diri meniti karir untuk bekal masa depan. Tapi ketika salah satu saja diantara keduanya itu memenuhi pikiran, rasanya capek sekali. Misalnya hanya fokus pada urusan cinta saja, hanya berpikir soal dia dia dan si dia saja. Ketika cinta membuat kecewa, ambruklah saya. Serasa dunia menenggelamkan saya kedasar laut, padahal tidak bisa berenang. Habislah sudah. Tapi hukum kegagalan harus ditegakkan,

Continue reading “#part5 Self Controlling”