Ketika Interviewer bertanya: “Apa Perbedaan Koperasi dan Bank”

Pengalaman pribadi aja nih, karena obsesi kerja dilembaga keuangan. Yang gue alami cari peluang di bank susah ternyata, kebanyakan posisi yang ditawarkan adalah posisi sejenis marketing dengan beragam tittle. Ada Account officer, Account Executive, Relationship Officer dan lain sebagainya. Alih-alih karena bosan dengan dunia marketing, melihat peluang kaya gitu gue jadi males 😅. Ada lagi sih program Officer Development Program (ODP), tapi sepertinya peruntungan gue ga terlalu bagus disitu apalagi ada yang bilang ODP itu biasanya dilihat kemampuan berbahasa inggrisnya (katanya)..lah ya udah gue mundur perlahan lah kalo udah inggris2an 😭

Akhirnya guepun mulai melirik lembaga keuangan lain, koperasi. Mulailah lamaran demi lamaran gue terbangkan pada koperasi yang memang lagi open recruitment. Koperasi pertama yang gue masuki adalah koperasi syariah yang kebanyakan kantor cabangnya tersebar didaerah-daerah dataran tinggi, mitra petani sayur mayur mungkin. Dan dengan segala rangkaian tesnya gue dinyatakan diterima disana walaupun saat di tanya “apa perbedaan koperasi dan bank?

Continue reading “Ketika Interviewer bertanya: “Apa Perbedaan Koperasi dan Bank””

Balada sang Ibu Mertua

Perih rasanya membaca sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman melalui salah satu grup chating ini, dapat kubayangkan bagaimana perasaan seorang ibu jika dilupakan oleh anak laki-lakinya selepas menikah. Terlebih jika sang anak adalah seseorang yang digadang-gadang dapat menjadi tulang punggung keluarga menggantikan sang ayah yang kian menua, yang tak mungkin terus menerus bekerja menopang kebutuhan keluarga. Meskipun menikah diusia muda bagi seorang anak laki-laki pertama bukanlah hal yang salah, hanya saja keadaan dipandang lain ketika yang terjadi justru sang anak terlalu sibuk bersama rumah tangganya sementara orang tuanya membutuhkan uluran tangannya.

​”PILIH AKU ATAU IBUMU”
Continue reading “Balada sang Ibu Mertua”

Damai tapi Gersang

Semesta seolah menghakimi kesalahan atas hidup yang tak kunjung berubah, tapi hatipun kadang berbalik menuntut kenapa hidup begitu kejam. Apakah semua ini murni atas kesalahanku, sementara diluar sana berapa banyak pendosa yang tetap diberi jalan untuk hidupnya. Apakah aku ini yang terburuk diantara kesemuanya? Hingga hidup enggan berpihak padaku. Apalah aku ini, hanya seorang anak yang terjebak dalam masa transisi. Tidakkah hidup ini memberikanku kesempatan untuk perlahan saja memulai kewajibanku dengan santai, tapi kenapa beban hidup seolah mengejarku, memaksaku bahwa aku tidak punya banyak waktu lagi.
Kenapa hidup ini terus mengincarku apakah benar bahwa selama ini telah banyak waktu kuhabiskan dalam kemalasan, banyak kesempatan terlewatkan, selama ini ternyata tidak banyak hal berguna yang kulakukan. Tapi bukankah sudah kubilang, tak bisakah kumulai semua ini dengan perlahan saja, meski rasa penat dan tumpukan energi berlebih dalam raga mulai menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa ‘tidak berguna’ dan rutinitas tidak produktif kian membuat sesak didada, namun logika hanya sebatas bertanya “ada apa?“. Ada apa dengan hidup yang nyata ini, bagaimana dengan pertanyaan 5W+1H yang belum dapat terpecahkan.

Sumber: Instagram

Continue reading “Damai tapi Gersang”

Leave me alone!

Duhai diri, maafkan aku yang saat ini justru sangat terpuruk dan ingin berteriak “wahai dunia! Menjauhlah dariku! Tinggalkan aku sendiri! Kau tak boleh melihatku dalam keadaan ini, aku akan berdiri dihadapanmu hanya jika aku telah berhasil melawan kesulitan ini”. Aku terpuruk melihat mereka yang benar-benar berjuang untuk hidupnya, sementara untuk memijakkan langkah pertama saja aku belum melakukannya. Aku masih diam ditempat ketika yang lain berlari dengan berapi-api. Aku sudah merasa lelah ketika bersiap-siap, sedangkan mereka justru berlari tanpa mengenal lelah. Satu hal yang aku pertanyakan, apa aku ini? Akupun mampu berlari, tapi apa yang aku tunggu?

Duhai diri, maafkan aku 😭

Maafkan aku yang masih terkurung dalam pusaran ego yang idealis ini. Maafkan aku yang telah memenuhimu dengan segala ambisi namun tak kunjung eksekusi, hanya meninggalkan harapan kosong yang mengotori hati. Sungguh telah banyak kubuang waktumu hanya sekedar untuk menunggu, pun menunggu dalam ketidak sungguhan.

Continue reading “Leave me alone!”