Rindu

Siang ini Aku pergi kesuatu tempat, tujuannya adalah membeli sesuatu untuk perlengkapan ngantor. Entah kenapa setiap pagi ketika persiapan ngantor, bercermin menjadi hal yang paling membuatku malas. Sosok yang muncul di cermin itu seperti bukan Aku, bukan Aku yang kuinginkan dan bukan pula yang Dia inginkan. Bukan sedang menggadaikan aqidah, tapi kenyataannya hidup menuntunku ke jalan ini. Aku tak punya pilihan, atau mungkin Aku punya pilihan tapi tak punya cukup waktu untuk memilih.

Setelah menemukan sesuatu yang Aku cari, Aku bergegas pulang karena gerimis mulai jatuh. Aku hanya malas jika sampai terjebak hujan lebat, karenanya Aku segera pulang. Disiang yang mendung itu, Aku berkendara sambil ditemani rintik air. Udaranya sejuk, jalanan sepi, syahdu sekali. Seperti tak ingin perjalanan ini berakhir. Aku berkendara sambil sedikit melamun, eh bukan melamun. Mungkin lebih tepatnya merenungi, sepanjang sisi jalan kulihat ada bermacam aktivitas orang-orang mulai dari berjualan, bersantai, bermain, lalu apa yang kurenungkan? 
Continue reading “Rindu”

Advertisements

Ketika Interviewer bertanya: “Apa Perbedaan Koperasi dan Bank”

Pengalaman pribadi aja nih, karena obsesi kerja dilembaga keuangan. Yang gue alami cari peluang di bank susah ternyata, kebanyakan posisi yang ditawarkan adalah posisi sejenis marketing dengan beragam tittle. Ada Account officer, Account Executive, Relationship Officer dan lain sebagainya. Alih-alih karena bosan dengan dunia marketing, melihat peluang kaya gitu gue jadi males 😅. Ada lagi sih program Officer Development Program (ODP), tapi sepertinya peruntungan gue ga terlalu bagus disitu apalagi ada yang bilang ODP itu biasanya dilihat kemampuan berbahasa inggrisnya (katanya)..lah ya udah gue mundur perlahan lah kalo udah inggris2an 😭

Akhirnya guepun mulai melirik lembaga keuangan lain, koperasi. Mulailah lamaran demi lamaran gue terbangkan pada koperasi yang memang lagi open recruitment. Koperasi pertama yang gue masuki adalah koperasi syariah yang kebanyakan kantor cabangnya tersebar didaerah-daerah dataran tinggi, mitra petani sayur mayur mungkin. Dan dengan segala rangkaian tesnya gue dinyatakan diterima disana walaupun saat di tanya “apa perbedaan koperasi dan bank?

Continue reading “Ketika Interviewer bertanya: “Apa Perbedaan Koperasi dan Bank””

Balada sang Ibu Mertua

Perih rasanya membaca sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman melalui salah satu grup chating ini, dapat kubayangkan bagaimana perasaan seorang ibu jika dilupakan oleh anak laki-lakinya selepas menikah. Terlebih jika sang anak adalah seseorang yang digadang-gadang dapat menjadi tulang punggung keluarga menggantikan sang ayah yang kian menua, yang tak mungkin terus menerus bekerja menopang kebutuhan keluarga. Meskipun menikah diusia muda bagi seorang anak laki-laki pertama bukanlah hal yang salah, hanya saja keadaan dipandang lain ketika yang terjadi justru sang anak terlalu sibuk bersama rumah tangganya sementara orang tuanya membutuhkan uluran tangannya.

​”PILIH AKU ATAU IBUMU”
Continue reading “Balada sang Ibu Mertua”

Cinta Munyuk (IX) Tirtonadi Ninggal Ati

Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

Pernah mendengar statement diatas? Yang pernah nonton serial drama Kera Sakti pasti tau, kira-kira tahun 2000an tayang di televisi. Jenderal Tienpeng alias Cupatkai yang selalu mengalami kegagalan dalam asmaranya selalu memunculkan quote itu. Waktu kecil dulu, mendengar kalimat semacam itu benar-benar mengocok perut. Lucu, coba cupatkai seganteng, sekeren dan sealim Tong Sam Cong, atau sesakti Sun Go Kong pasti jarang ada yang menolaknya. Tapi seiring berjalannya waktu, atas apa yang telah gue alami pada akhirnya gue sadar bahwa quote diatas benar adanya.

====================================Lanjutan dari postingan sebelumnya

Saat itu gue masih sangat emosi, karena gue merasa ga dimanusiakan. Biar begini-begini kan gue juga bisa marah, kenapa ketidaknyamanan gue sama sekali ga dihargai. Gue tetep bersikeras kalo dia salah, bodo amat gue ga mau minta maaf.
Nyatanya bener, setelah kejadian itu Tua ga pernah menghubungi gue lagi via apapun. Kita lost contact untuk kedua kalinya, gue pikir ah paling bentar lagi juga dia dateng lagi ke gue. Tapi lost contact kali ini gue sedikit menyesal, gue tau apa yang gue bilang ke dia itu jahat. Sempat merasa kehilangan, tapi dia terlanjur marah besar dan kecewa ke gue. Gue tungguin seminggu, hp gue sepi. Dua minggu, tiga minggu dan seterusnya masih sepi, dia beneran pergi dari gue. Galau berat gue waktu itu, banyak temen-temen gue yang jadi korban curhatan panjang lebar dan disitu mereka keheranan orang kaya gue bisa nyeletuk sadis begitu. Apa daya semua telah terjadi, gue cuma bisa pasrah.

Continue reading “Cinta Munyuk (IX) Tirtonadi Ninggal Ati”

Cinta Munyuk (VIII) Yang Terlewatkan

Awal 2014 Jakarta dilanda banjir, yang secara tidak langsung menghambat transaksi jual beli dagangan gue. Sejak pertengahan 2013 gue ikut bantu-bantu kakak gue jualan jas, bukan jas hujan loh tapi jas blazer ala-ala orang kantoran. Jas ini dipasarkan secara online, dan yang membuat kita spesial adalah karena jas yang kita jual bisa di custom sesuai tinggi dan berat badan pembeli. Peran gue disitu selain sebagai penjual juga bisa dibilang konsultan, sebelum pesan jas biasanya pembeli konsultasi hendak dicustom seperti apa nanti jasnya. Suka ngerasa kocak sih, gue sering bertindak sotoy ketika dikonsultasi. Namanya juga penjual, kalo plonga plongo ga bisa ngeles ya ga laku jualannya. Jelas dimana-mana skill jualan terletak dibagian komunikasi, jangan sungkan untuk bawel, betul betul betul?
Suatu hari ada seorang calon pembeli dari ibu kota nginvite pin BBM gue, setelah tanya-tanya seputar jas dia bilang kalo mau pesan tapi nunggu ekspedisi normal. Maklum gara-gara banjir jasa ekspedisi ketar-ketir, pengiriman dipending. Entah karena hal apa obrolan gue dengan si calon pembeli ini berlanjut terus, mulai dari ngomongin kucing sampe merembet ke hal lain. Ternyata dia juga kerja dibagian penjualan, karakter bawelpun tidak terelakkan jadi maklum kalo bahan obrolannya ga abis-abis.Namanya Tony, cat lovers banget kayaknya. Gue inget obrolan yang bikin kita jadi akrab, pas dia curhat soal kucingnya (si Gevi dan Ukma) gue iseng nanya “lebih sedih ditinggal pacar apa ditinggal kucing gan?” Hahaha 😂 singkat cerita karena obrolan kita yang terlanjur selalu menyenangkan (isinya ngelawak terus), kita cepat merasa nyaman untuk saling bercerita keluh kesah kegiatan sehari-hari bahkan sampe urusan pribadi.

Continue reading “Cinta Munyuk (VIII) Yang Terlewatkan”

Cinta Munyuk (VII) Sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu

Masih dimalam yang sama, malam ketika hati terguncang mendengar suatu penghakiman yang mau tidak mau harus melepaskan apa yang ada dalam genggaman saat itu juga. We have no choice.
First* berusaha menenangkan gue, gue cuma bisa nangis dan ngacak-ngacak makanan yang gue pesan. Dan gue tau First* ngerti apa yang gue rasakan, selesai makan kita pulang. Tapi First* ga langsung mulangin gue kekosan, dia belum tega mulangin gue kekos sementara airmata gue masih ngalir. Dia memutuskan berhenti didepan taman satwa jurug, bukan tempat buat parkir sih. Cuma numpang berhenti aja, kebetulan malam itu hujan deras. Makin syahdu aja suasana kehancuran hati gue, hujan kan selalu identik dengan kenangan..eh, genangan. Karena gue terus-terusan mewek First* mencoba menghibur gue dengan membawa gue keliling kota, tapi karena udah larut malam dia ngantuk dan dilampu merah nyeruduk mobil orang. Ga kenceng sih tapi dia panik trus gue yang diomelin, mukanya langsung gaenak dan buru-buru minta pulang. Meskipun malam itu gue belum mau dipulangin kekost.
Sulit bagi gue buat menerima alasan perpisahan kita, First* paham itu. Dia bahkan sempat berjanji akan menemani gue sampai gue menemukan pengganti dia. So sweet ya? Iya kesannya so sweet, tapi kesannya doang. Liat aja kelanjutan kisahnya, …

Continue reading “Cinta Munyuk (VII) Sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu”

Cinta Munyuk (VI) Mama Bilang ‘Tidak!’

Lanjutan, dari postingan sebelumnya …

Beranjak dari kisah rumit penuh teka teki, gue udah lebih fokus dengan laki-laki yang setia membersamai gue waktu itu. Siapa lagi kalo bukan First*, meskipun kedekatan kita belum lama tapi gue merasa sangat nyaman dan pastinya sangat terhibur. Tadinya gue berpikir, kalo gue suka sama brondong ini gue dapet apa? Gue kira mentang-mentang dia lebih muda 1 tahun dari gue, dia lebih kekanakan dari gue dan dia ga bisa ngajarin gue apapun, yang ada malah gue ngajarin dia banyak hal karena dari segi pengalaman jelas menang gue. Tapi ternyata pemikiran gue salah besar, First* adalah sosok yang smart, kocak, dan sangat romantis. Smart yang dia punya itulah yang mematahkan pemikiran gue ternyata dia lebih dewasa dan bisa mengajarkan gue banyak hal, wajar makin lama akhirnya gue luluh sama dia.

Kebersamaan kita terus berlanjut, sampe pada suatu malam diawal bulan Agustus kita buka puasa bareng (kebetulan pas ramadhan). Kalo ga salah buka puasanya rame-rame sama anak BEM yang lain, karena keasyikan ngobrol jadi lupa waktu sampe larut malam. Seperti biasa, First* nganterin gue pulang. Sampai didepan kost kita masih lanjut ngobrol, ngobrolnya cukup serius hahaha, tentang perasaan. Tanpa disangka waktu menunjukkan pukul 23.30an lewat, lewat banyak lah 😂. Maka obrolan malam itu harus segera berakhir, tanpa disangka First* mengakhiri obrolan dengan menyatakan perasaannya untuk yang kedua kali. Tanpa pikir panjang gue mengiyakan. Ekspresi First* kocak banget keliatan dari mukanya, “jadi, sekarang aku punya pacar?” Hahaha maklum, menurut pengakuannya gue ini pacar pertama dia. Continue reading “Cinta Munyuk (VI) Mama Bilang ‘Tidak!’”