Kontemplasi untuk 2017

Detik-detik terakhir jelang tutup tahun rasanya pengen hidup ini diulang ke lima tahun kebelakang, mulai dari masuk kuliah dulu. Sempat merasa kecewa dengan proses yang telah berjalan ini, rasa-rasanya masa penggodokan dibangku kuliah banyak yang sia-sia. Sampe sekarang rasanya masih menjadi sarjana sampah, yang lantang lantung kaya daun jatuh ketiup angin. Kenyataan sekarang ini justru sangat jauh dengan idealisme jauh-jauh hari yang lalu, yang idealnya setelah lulus langsung berkelana malah yang ada sekarang sekedar menentukan langkah pertama aja kebingungan. Baiknya ngapain ya biar ngga nyampah? Ga kerasa udah free setengah tahun, kelewat free parah. Tapi, ah sudahlah 😦

Dari pada capek hati meratapi ketidak berdayaan ini, nanti malah stress cepet tua. Ada baiknya memotivasi diri sendiri biar ga lelah untuk terus mencari, yakin aja kalo Allah ga jahat. Pokoknya apapun yang dibutuhkan pasti bakalan dapet, pasti nemu. Mungkin ditahun ganjil semua akan terjawab, waktu akan berpihak ☺

Dulu sempat bercita-cita bahwa jika menikah nanti maksimal umur 23, tapi pada kenyataannya tahun ini dimana umur yang ke 23 ini segera menggenapkan dirinya justru semakin ga minat untuk cepet-cepet nikah. Masih banyak hal yang mau dicoba, dirasakan dan diwujudkan. Disaat temen seangkatan satu demi satu menggenapkan separuh agamanya, diri sendiri malah semakin ga fokus urusan hati. Seolah mata ini makin terbuka lebar bahwa hidup ini bukan cuma soal cinta-cintaan. Intinya urusan cinta belakangan, resolusi tahun ini cuma bengkelin otak, hati (dalam hal agama), dan dompet.
Terlebih lagi di hari pertama 2017 ini ada kabar duka datang dari seorang perempuan, adik tingkat angkatan 2014. Cukup kenal baik, tapi lupa namanya siapa cuma tau dari foto. Jaman ngulang mata kuliah kimia dulu, kita sekelas. Kadang dia baik ngasih contekan, dan kalo kelas kelar ampe malem dia suka sepik minta dianterin pulang ke kosnya. Kaget tiba-tiba dia dikabarkan meninggal karena kecelakaan persis setelah merayakan tahun baru bersama seorang pria yang katanya sih pacarnya. Kronologisnya sepele, gegara mereka naik motor boncengan dan si cowok itu nggak hati-hati. Masa lagi tikungan tajam dia nyalip mobil pickup, dan qadarullah di arah berlawanan ada motor yang sama-sama lagi kenceng. Kejadian itu kurang lebih jam 2.15 dinihari, dan si adik tingkat itu kabarnya meninggal ditempat karena ruptur abdomen fraktur pelvis dan fraktur femur. Subhanallah parah juga ya, ngeri ngebayanginnya.

Berduka, jelas. Hikmahnya harus hati-hati, tentu. Tapi coba fokus ke hikmah yang lain, betapa maut itu sangat dekat dan muidah sekali bisa terjadi begitu saja tanpa disangka. Ketika kita meninggal dalam keadaan yang sama, itu artinya kita meninggal dalam keadaan sedang bermaksiat. Naudzubillah, memang hanya Allah yang tau adzab seperti apa yang akan ditimpakan pada orang-orang yang demikian. Maka dari itu, untuk yang saat ini sama sekali belum ingin menikah rasanya sangat dianjurkan untuk jauh-jauh dari perasaan cinta yang menjerumuskan, mending fokus ke hal lain. Jangan bangga bagi yang mampu berlama-lama dalam status pacaran, kalo anda waras anda justru waspada dan ujung-ujungnya males menjalani itu karena resikonya besar. Tidak ada seorangpun yang ingin dijemput ajal dalam keadaan bermaksiat, semua berharap khusnul khotimah.

Fokus perbaiki apapun yang ada dalam diri dengan seimbang,
2017 akan lebih rumit, tapi pasti bisa jauh lebih baik, dan semoga kita mampu berada dalam capaian terbaik.
Yakin bisa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s