Damai tapi Gersang

Semesta seolah menghakimi kesalahan atas hidup yang tak kunjung berubah, tapi hatipun kadang berbalik menuntut kenapa hidup begitu kejam. Apakah semua ini murni atas kesalahanku, sementara diluar sana berapa banyak pendosa yang tetap diberi jalan untuk hidupnya. Apakah aku ini yang terburuk diantara kesemuanya? Hingga hidup enggan berpihak padaku. Apalah aku ini, hanya seorang anak yang terjebak dalam masa transisi. Tidakkah hidup ini memberikanku kesempatan untuk perlahan saja memulai kewajibanku dengan santai, tapi kenapa beban hidup seolah mengejarku, memaksaku bahwa aku tidak punya banyak waktu lagi.
Kenapa hidup ini terus mengincarku apakah benar bahwa selama ini telah banyak waktu kuhabiskan dalam kemalasan, banyak kesempatan terlewatkan, selama ini ternyata tidak banyak hal berguna yang kulakukan. Tapi bukankah sudah kubilang, tak bisakah kumulai semua ini dengan perlahan saja, meski rasa penat dan tumpukan energi berlebih dalam raga mulai menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa ‘tidak berguna’ dan rutinitas tidak produktif kian membuat sesak didada, namun logika hanya sebatas bertanya “ada apa?“. Ada apa dengan hidup yang nyata ini, bagaimana dengan pertanyaan 5W+1H yang belum dapat terpecahkan.

Sumber: Instagram


Tiba-tiba kalimat itu hadir, seperti seteguk air ditengah dahaga luar biasa. Bagai sambaran petir yang sontak memecah keheningan malam. Membacanya sekilas saja logika ini termenung, terlebih saat mencernanya dengan cermat.

Hasan Al-Bashri berkata:
“Apa yang berharga dari agamamu jika sholatmu saja tidak berharga bagimu? Padahal pertanyaan pertama yang akan ditanyakan padamu pada hari kiamat adalah tentang sholat”
Bagaimana mungkin seorang hamba memohon kesuksesan kepada Allah, sementara hak-Nya tidak ia tunaikan. Karena sesungguhnya sholat itu bergandengan dengan kesuksesan, betapa Allah selalu memanggil hamba-Nya 
Hayya ‘alas sholah, hayya ‘alal falaah“, Mari mendirikan sholat, mari meraih kemenangan. Bukankah kemenangan itu selaras dengan kesuksesan. Betapa Allah tidak pernah tidak mengingatkan, hanya saja hamba-Nya lah yang tidak peka. Itu berarti barangsiapa yang terbiasa menunda sholat, maka ia harus siap tertunda segala urusan kehidupannya. Sehingga seperti apa seseorang mampu memperbaiki sholatnya, seperti itulah ia akan mampu memperbaiki hidupnya.

Selama ini kegelisahan bersumber dari ketidakmampuan diri untuk menjawab, mulai dari mana? Hingga semuanya terasa seperti terlanjur carut marut, begitu sulit diselesaikan. Seperti ingin menata ulang, bagaimana selayaknya hidup ini. Maka kalimat itu menyadarkanku, bahwa tidak ada yang lain yang harus kulakukan kecuali memulainya dengan memperbaiki sholatku. Mungkin dengan sholat tepat waktu saja belum cukup membalikkan keadaan, tapi setidaknya dari sanalah ketenangan berawal. 

****************************************************************

Ketika kita menanam bunga, akan tumbuh rumput. Bunga tumbuh ke atas (vertikal) dari tanah, rumput sejajar dengan tanah (horizontal). Artinya hubungan hamba dengan Tuhannya seperti bunga yang ditanam, dan tumbuhnya rumput ibarat hamba dengan kehidupannya didunia. Jika kita menanamkan kecintaan pada-Nya yang diatas, maka kehidupan diduniapun mengiringi.
Bismillah, perbaiki mulai dititik ini. Be on time 😌

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s