Leave me alone!

Duhai diri, maafkan aku yang saat ini justru sangat terpuruk dan ingin berteriak “wahai dunia! Menjauhlah dariku! Tinggalkan aku sendiri! Kau tak boleh melihatku dalam keadaan ini, aku akan berdiri dihadapanmu hanya jika aku telah berhasil melawan kesulitan ini”. Aku terpuruk melihat mereka yang benar-benar berjuang untuk hidupnya, sementara untuk memijakkan langkah pertama saja aku belum melakukannya. Aku masih diam ditempat ketika yang lain berlari dengan berapi-api. Aku sudah merasa lelah ketika bersiap-siap, sedangkan mereka justru berlari tanpa mengenal lelah. Satu hal yang aku pertanyakan, apa aku ini? Akupun mampu berlari, tapi apa yang aku tunggu?

Duhai diri, maafkan aku 😭

Maafkan aku yang masih terkurung dalam pusaran ego yang idealis ini. Maafkan aku yang telah memenuhimu dengan segala ambisi namun tak kunjung eksekusi, hanya meninggalkan harapan kosong yang mengotori hati. Sungguh telah banyak kubuang waktumu hanya sekedar untuk menunggu, pun menunggu dalam ketidak sungguhan.

Duhai diri, betapa piciknya aku ini. Alih-alih menerima dengan lapang dada segala bentuk keterbatasan, justru membuat keadaan tidak berkembang. Hanya itu-itu saja, sungguh apakah aku ini butuh tamparan agar semua mimpi ini berakhir? Hingga tersadar bahwa aku tidak sedang tertidur, maka ini bukanlah mimpi tapi inilah awal sejarah hidup yang nyata. Sesungguhnya aku sangat mengkhawatirkan masa depanmu, tapi sampai detik ini aku masih hilang arah. Entah akan kumulai dari mana, dan kemana langkah ini akan tertuju.

Duhai diri, maafkan aku yang bahkan tak berdaya sekedar merubah duniaku sendiri. Aku bahkan segan menampakkan diri, muncul ditengah-tengah khalayak. Karena sungguh aku malu atas ketidakberdayaan ini, aku tak mampu mengakuinya. Maafkan aku yang tak pernah tahu kapan situasi ini berujung.

Duhai diri, aku mengerti betapa kau sangat tidak nyaman dengan stagnansi ini. Maafkan aku yang hanya mampu berjalan dalam angan, dan bukan melangkah menuju kepastian. Apakah aku terlalu lemah untuk semua ini? Tapi betapa banyak diluar sana yang mampu menghadapi hal seperti ini, bagaimana denganku.

Retorika belaka, seperti itu mungkin yang kau rasakan. Ketika tiba waktu untuk pembuktian, aku justru seolah lari dari apa yang kukatakan dulu. Tapi ketahuilah, aku berlari untuk mencari pintu dari mana aku bisa menjemputnya secara perlahan. Aku masih bisa mewujudkannya, aku yakin. Aku hanya butuh waktu, itu saja.

Duhai diri, “Mungkin kau butuh waktu lebih untuk membangun kesungguhanmu”, itu sajakah pesanmu padaku? Baiklah, akan kuperjuangkan. Untukku dan untuk masa depanmu, demi kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s