Balada sang Ibu Mertua

Perih rasanya membaca sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman melalui salah satu grup chating ini, dapat kubayangkan bagaimana perasaan seorang ibu jika dilupakan oleh anak laki-lakinya selepas menikah. Terlebih jika sang anak adalah seseorang yang digadang-gadang dapat menjadi tulang punggung keluarga menggantikan sang ayah yang kian menua, yang tak mungkin terus menerus bekerja menopang kebutuhan keluarga. Meskipun menikah diusia muda bagi seorang anak laki-laki pertama bukanlah hal yang salah, hanya saja keadaan dipandang lain ketika yang terjadi justru sang anak terlalu sibuk bersama rumah tangganya sementara orang tuanya membutuhkan uluran tangannya.

​”PILIH AKU ATAU IBUMU”
Continue reading “Balada sang Ibu Mertua”

Advertisements

Damai tapi Gersang

Semesta seolah menghakimi kesalahan atas hidup yang tak kunjung berubah, tapi hatipun kadang berbalik menuntut kenapa hidup begitu kejam. Apakah semua ini murni atas kesalahanku, sementara diluar sana berapa banyak pendosa yang tetap diberi jalan untuk hidupnya. Apakah aku ini yang terburuk diantara kesemuanya? Hingga hidup enggan berpihak padaku. Apalah aku ini, hanya seorang anak yang terjebak dalam masa transisi. Tidakkah hidup ini memberikanku kesempatan untuk perlahan saja memulai kewajibanku dengan santai, tapi kenapa beban hidup seolah mengejarku, memaksaku bahwa aku tidak punya banyak waktu lagi.
Kenapa hidup ini terus mengincarku apakah benar bahwa selama ini telah banyak waktu kuhabiskan dalam kemalasan, banyak kesempatan terlewatkan, selama ini ternyata tidak banyak hal berguna yang kulakukan. Tapi bukankah sudah kubilang, tak bisakah kumulai semua ini dengan perlahan saja, meski rasa penat dan tumpukan energi berlebih dalam raga mulai menimbulkan ketidaknyamanan. Rasa ‘tidak berguna’ dan rutinitas tidak produktif kian membuat sesak didada, namun logika hanya sebatas bertanya “ada apa?“. Ada apa dengan hidup yang nyata ini, bagaimana dengan pertanyaan 5W+1H yang belum dapat terpecahkan.

Sumber: Instagram

Continue reading “Damai tapi Gersang”

Leave me alone!

Duhai diri, maafkan aku yang saat ini justru sangat terpuruk dan ingin berteriak “wahai dunia! Menjauhlah dariku! Tinggalkan aku sendiri! Kau tak boleh melihatku dalam keadaan ini, aku akan berdiri dihadapanmu hanya jika aku telah berhasil melawan kesulitan ini”. Aku terpuruk melihat mereka yang benar-benar berjuang untuk hidupnya, sementara untuk memijakkan langkah pertama saja aku belum melakukannya. Aku masih diam ditempat ketika yang lain berlari dengan berapi-api. Aku sudah merasa lelah ketika bersiap-siap, sedangkan mereka justru berlari tanpa mengenal lelah. Satu hal yang aku pertanyakan, apa aku ini? Akupun mampu berlari, tapi apa yang aku tunggu?

Duhai diri, maafkan aku 😭

Maafkan aku yang masih terkurung dalam pusaran ego yang idealis ini. Maafkan aku yang telah memenuhimu dengan segala ambisi namun tak kunjung eksekusi, hanya meninggalkan harapan kosong yang mengotori hati. Sungguh telah banyak kubuang waktumu hanya sekedar untuk menunggu, pun menunggu dalam ketidak sungguhan.

Continue reading “Leave me alone!”

Kalimat Indah

         نحن لا نملك تغییر الماضي 
Kita tidak bisa merubah apa yang telah terjadi
            و لا رسم المستقبل .. 
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
         فلماذا نقتل انفسنا حسرة
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan?
        على شيئ لا نستطیع تغییره؟
Atas apa yg sudah tidak bisa kita rubah

  الحیاه قصیرة وأهدافها كثيرة
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
             فانظر الى السحاب 
           و لا تنظر الى التراب .. 
Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah
           اذا ضاقت بك الدروب 
             فعلیك بعلام الغیوب 
Kalau merasa jalan sudah sempit, kembalilah ke Allah yg Maha Mengetahui yg gaib! 
      و قل الحمدلله على كل شيئ 
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja
 سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص
Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang
وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد
Sedang kapal Nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang
  الأولى غرقت والثانية حملت البشرية
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia Continue reading “Kalimat Indah”

Aku Salah Menilai Kemurahan Hati-Nya

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Bicara mengenai hati dari sudut pandang agama, adalah bicara bagaimana kita mengimani suatu keyakinan dan melaksanakan ketaatan pada sang Raja Kehidupan. Berikut adalah sebuah renungan agar khawatirlah apabila dalam benak kita tak sedikitpun rasa cemas menghampiri, jangan-jangan hati kita memang sudah mati. Kita perlu renungkan, bagaimana kemurahan hati-Nya selama ini kita sikapi. Apakah justru kita semakin lalai dan terlena, ataukah tersungkur malu atas ketidak-tahu-diri-an kita sebagai hamba yang sering melalaikan hak-Nya. Tulisan ini hanya meneruskan sebuah pesan dari sumber lain, semoga kita termasuk orang-orang yang hatinya selalu hidup.

Seorang murid mengadu kepada gurunya:

Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita“.
Sang Guru menjawab dengan tenang:
Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa“.
Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: sedikitnya taufiq  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan“.
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya“. Sebagai contoh:
Continue reading “Aku Salah Menilai Kemurahan Hati-Nya”