#part5 Self Controlling

#part sebelumnya sudah banyak dibahas mengenai pikiran dan seperangkatnya, dan siapa lagi yang mengendalikan pikiran jika bukan diri sendiri. Maka pandai-pandailah mengontrol diri. Pepatah bilang, orang hebat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain. Melainkan orang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya, dalam situasi apapun. Jujur saja dari pengalaman pribadi, saya lelah. Meskipun masalah anak umur 22tahun bisa dibilang belum terlalu rumit, hanya sebatas cinta dan jati diri meniti karir untuk bekal masa depan. Tapi ketika salah satu saja diantara keduanya itu memenuhi pikiran, rasanya capek sekali. Misalnya hanya fokus pada urusan cinta saja, hanya berpikir soal dia dia dan si dia saja. Ketika cinta membuat kecewa, ambruklah saya. Serasa dunia menenggelamkan saya kedasar laut, padahal tidak bisa berenang. Habislah sudah. Tapi hukum kegagalan harus ditegakkan,

jatuh ya bangkit lagi, gagal ya coba lagi, begitu seterusnya. Capek ya? Jelas. Sampai-sampai 1,5 tahun belakangan ini saya sadar, saya terlalu fokus pada cinta. Padahal hidup ini bukan cuma soal cinta-cintaan, masih banyak hal lain yang lebih pantas digalaukan. Dan benar saja, cobalah untuk tidak memenuhi pikiran hanya dengan satu persoalan. Beri tempat untuk yang lain, agar seimbang. Bukan berarti tidak bisa fokus, memang ada saatnya kita dituntut fokus pada 1hal saja. Tapi pasti itu hanya untuk waktu tertentu, tinggal bagaimana kita menempatkan diri.

Masih bicara tentang percintaan, sejauh ini saya masih sering menemui orang-orang yang galau berlarut-larut bahkan gagal move on. Masih ada saja yang sangat serius meratapi dan mempermasalahkan segala sesuatu yang terjadi dengan hubungannya. Banyak yang curhat, ada yang emosi, terisak-isak, macam-macam deh. Lalu ketika saya tanggapi malah dianggapnya yang saya katakan adalah sebuah pencerahan. Hahaha, saya tidak sehebat itu keleeeus! Hanya saja saya telah lebih dulu mengalami hal-hal seperti itu, dan saya sudah tidak mau ambil pusing. Saya berprinsip, kembalikan pada diri sendiri. Kok bukan kembalikan pada Tuhan? Lha wong Tuhan itu mengikuti prasangka hambaNya, tetap kembali pada diri sendiri dulu. Apakah diri kita ini mau menyerahkan semua permasalahan padaNya atau tidak. Kalau iya, maka kita tenang. Jika tidak, silahkan saja mempersulit diri sendiri. Toh lelah letihnya kita yang rasakan.

Cukup ya bicara soal cinta-cintaannya, segalau apapun karena cinta pokoknya cukupkan saat ini juga. Sekali lagi, hidup ini bukan cuma soal cinta. Masih banyak yang perlu digalaukan. Berhenti menyita waktu untuk urusan cinta, perbanyak doakan keluarga. Orang tua terutama, karena hampir separuh usia mereka didedikasikan untuk kita. Akan ada saatnya orang tua benar-benar mengharapkan anaknya mandiri, karirnya cemerlang, sukses, dan menanti si anak agar bisa jadi andalan orang tuanya dihari tua nanti. Itu pasti! Meskipun tidak semua orang tua akan mengatakan itu secara langsung. Karena setiap anak adalah investasi orang tuanya, tidak perlu lagi dijelaskan. Orang tua selalu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya, karena mereka punya harapan besar.

Biasanya ketika orangtua telah selesai menunaikan tugasnya untuk memberi bekal pengetahuan dan memperkenalkan sekilas bagaimana manusia bertahan hidup (dengan melihat bagaimana orang tuanya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga), disitulah babak baru kehidupan si anak dimulai. Pasca kelulusan, apa saja entah sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Memang ada sebagian orang tua yang mampu mengantarkan anaknya hingga menemukan pekerjaan sebagai mata pencaharian untuk bertahan hidup. Tapi tidak sedikit juga anak-anak yang harus mencari jalannya sendiri. Langkah pertama biasanya alot, bahkan untuk bisa melangkah kearah mana pun kadang banyak yang kebingungan. Sementara dipundak kita sebagai anak, terus menerus ditimpa dengan harapan-harapan orang tua. Atas dasar tidak ingin mengecewakan orang tua, tapi kitapun tidak tahu harus memulai dari mana atau dari apa. Kemudian mana pintu pertama yang harus diketuk agar dapat menjumpai jalan keluar, menuju karir dan masa depan yang cerah. Maka disitulah kegalauan baru ditemukan. Tapi jangan khawatir, Tuhan selalu memberikan pola. Jangan memenuhi pikiran hanya dengan satu persoalan, agar tidak sepaneng (istilah jawa, semacam fokus berlebih berujung stress). Lalu kembalikan pada diri sendiri, biarkan diri ini yakin pada keadilan dan kekuasaan Tuhan. Yang terpenting kita manusia jangan pernah berhenti mencoba dan berdoa. Kuncinya ada pada pikiran kita, kendalikan diri dengan benar.

Jangan pernah berhenti, jangan pernah berhenti, dan jangan pernah berhenti. Karena waktu terus berjalan, lanjutkanlah atau kita diam lalu tertinggal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s