#part4 Alay!

Komika Raditya Dika pernah bilang, bahwa tahap perkembangan manusia itu dimulai dari balita – anak-anak – remaja – alaaaaay – dewasa. Zaman sekarang, siapa yang tidak kenal istilah ‘anak alay’ ? Jangan-jangan malah kita sendiri semasa sekolah dulu pernah mendapat gelar anak alay itu, hahaha! Seperti apa definisi alay ini? Abstrak sebenarnya, singkatnya mungkin alay itu dicitrakan untuk seseorang yang bertindak berlebihan dan tidak wajar. Nah kebetulan seseorang yang punya kriteria seperti itu biasanya

muda-mudi yang masih mencari jati dirinya, bisa dikatakan belum dewasa. Ikut-ikutan pacaran, ikut-ikutan apapun gaya yang lagi hits, tanpa peduli seberapa pantas manusia seusia mereka melakukan itu. Caranya bermacam-macam, lucu sekali. Tapi tulisan ini tidak akan fokus membahas kelakuan anak alay dari bangun tidur sampai tidur lagi, takutnya nanti tulisan ini malah jadi naskah stand up comedy. Terus nanti saya disuruh open mic, hahaha! Anak alay tidak hanya alay dalam urusan asmara tapi juga gaya hidup. 

Ini bukti, bahwa semua orang pernah alay. Dengan caranya masing-masing, tergantung seberapa gesrek otak ybs

Bicara mengenai gaya hidup, menurut saya relatif dan itu memang hak siapa saja. Kalau memang mampu, ya terserah. Tapi kalau bicara urusan asmara, itu yang memperihatinkan. Masih kecil, sudah pacaran. Jangankan yang berseragam biru putih, yang merah putihpun sekarang banyak. Anak SD sudah bisa main “ciee cieeee-an”, padahal anak kecil apa coba yang di cie-in? Anak-anak juga sekarang sudah bisa genit, sudah hafal banyak lagu-lagu cinta yang sewajarnya itu adalah lagu orang dewasa. Kasihan masa kanak-kanak para bocah jaman sekarang yang banyak diracuni modernisasi asal-asalan. Media dan lingkungan terutama penyebabnya. Hasilnya ya seperti sekarang ini, muncul istilah alay-galau-baper-pehape-cabecabean-terongterongan. Tanya emak bapak kita, jaman mereka seusia kita ada istilah begitu atau tidak? Sekarang ada, siapa pencetusnya? Ya gitu deh. 

Ayo coba biasakan berpikir skematis dari hulu ke hilir, analisis sebab akibatnya. Kalau manusia hidup wajar dengan porsi yang pas, bisa menempatkan diri dengan baik pasti hasilnyapun pas dan wajar. Mungkin kenyataan masa muda orang tua terdahulu seperti itu, makanya jaman dulu tidak ada anak gadis dipanggil cabe-cabean. Bandingkan dengan kondisi saat ini, dimana alay bertebaran..galau melanda..baper gundah gulama..pehape menjamur..cabe-cabean merajalela, terong-teronganpun turut serta! Mungkin nggak sih, itu semua karena manusia jaman sekarang sudah hidup lebih bebas sesuka hatinya tanpa mengindahkan suatu kewajaran yang sepantasnya, dan juga manusia sekarang sulit menempatkan dirinya. Mulai dari urusan cinta-cintaan, fashion, pergaulan. Anak sekolah masih pakai seragam ngapain pada pacaran, galau mikirin cinta, bukankah itu terlalu buru-buru? Helllaaaaww..hidup ini bukan cuma perkara cinta-cintaan, tunggulah sampai benar-benar siap untuk berpikir dewasa dan betul-betul paham makna sebuah relationship. Untuk apa dan bagaimana menjalani kehidupan bersama pasangan. Orang yang telah matang dan dewasa, dalam menjalin hubungan tidak akan mengeluh dengan semena-mena disosial media, tidak akan bermain-main untuk jatuh cinta, benar kan? Nah dari situlah resiko galau, baper, pehape dan teman-teman alay yang lain. Jadi resiko semacam itu cuma soal waktu, lha wong belum waktunya sudah coba-coba. Lampu apill saja kalau belum hijau coba-coba diterobos resikonya celaka. Fashion dan pergaulanpun sepertinya sama, yang terburu-buru memaksakan sebelum waktunya ya ujung-ujungnya dapat gelar alay. Agak naik pangkat sedikit jadi cabe-cabean dan terong-terongan.

Pertanyaan saya, yang terburu-buru dan berlebihan itu untuk apa? Apa hebatnya hidup dalam ketidakwajaran? Apa orientasi sebenarnya untuk hidup yang singkat ini? Hidup cuma sekali, udah gitu singkat lagi. Jangan dibikin salah! Harus benar, harus baik. Memang nerakamu bukan urusanku, bahkan surgapun belum tentu menjadi jalanku. Tapi apa salahnya mengingatkan, agar lebih mudah menjadi pribadi yang lebih baik, agar menikmati hidup dengan cara yang benar. Benahi pola pikir kita, luruskan pikiran kita. Hati-hati dengan hati, egonya tinggi. Logika harus mampu mendampingi kapanpun pikiran kita bekerja, tinggalkan yang belum pantas. Tunggu sampai saatnya tiba, bedakan mana yang benar dan salah. Bukan malah mencari pembenaran, karena pembenaran itu adalah hal yang meragukan kebenarannya bahkan cenderung salah tapi di bela untuk dikatakan benar. Hitam dan putih sangat nyata berbeda, dan abu-abu adalah keraguan diantara keduanya. 

Sekian, mungkin sekelumit gagasan dalam #part4 ini adalah topik paling abstrak dan tidak nyambung dengan part sebelumnya. Hanya saja, semoga tidak merusak esensi gagasan yang lain di part sebelum maupun sesudahnya. Tetap fokus, hiduplah dengan tenang, gembira, santai, karena kita tidak pernah tahu tapi tuhan selalu tahu. Jangan salah mengorientasikan hidup ✌;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s