#part3 The Power of Mind

Mengulik peristiwa yang ada disekitar kita sebenarnya adalah keharusan. Pertama, agar kita terus belajar. Agar kita tidak mengulang kesalahan, terjatuh dilubang buaya..eh, lubang yang sama. Jadi betul-betul belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri atau orang lain. Yang kedua, agar kita bersyukur. Kok bisa? Lha kan ketika mempelajari sekitar, kita pasti dapat hikmah. Dan dibalik hikmah itu jika dikembalikan ke diri sendiri, akan banyak sekali hal yang harus disyukuri. Bukankah dalam Al Qur’an dijelaskan:

ﻭَﻣَﺎ ﺫَﺭَﺃَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔًﺎ ﺃَﻟْﻮَﺍﻧُﻪُ ۗﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟَﺂﻳَﺔً ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُﻭﻥ

Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran (QS. An Nahl : 13)

Loh jadi ada ayat-ayat cintaNya begini, wkwk. Ya intinya kita ini hamba Allah bener-bener disuruh ngambil pelajaran dari sekitar (ini tafsir mentah saya pribadi, mohon maaf jika ada kekurangan). Nah yang ketiga, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ya! Pastinya karena dengan mempelajari keadaan sekitar, yang kurang baik bisa kita perbaiki. Yang kurang maksimal bisa kita maksimalkan. Benar begitu? Percaya saja deh, segala peristiwa dalam hidup itu ada polanya. Saya merasa pola saya seperti itu, paling-paling orang lain pun begitu. Kok nggak beda? Karena Tuhan Maha Adil, jelas!

Betapa generasi pemikir sekarang ini sangat penting, karena kecerdasan sesungguhnya bukan dilihat dari nilai matematika. Tapi juga harus dicerdaskan pola pikirnya. Manusia yang banyak galau, banyak baper, banyak ke-php, banyak keributan, itu sama sekali tidak cerdas. Mereka terlalu fokus pada apa yang ada didepan mereka. Lupa bahwa masih ada kanan, kiri, atas, bawah bahkan belakang, intinya fokus pada sekeliling tidak hanya yang ada didepan. Walaupun manusiawi memang, tapi jika kemanusiawian itu tetap dicerdaskan alangkah indahnya bangsa ini 😍

Cerdas akan membawa pada kesuksesan, kebahagiaan. Menurut saya yang cerdas itu yang seimbang. Karena saya percaya, jika kita benar-benar hidup seimbang pasti bahagia. Keseimbangan terpenting adalah keseimbangan pikiran. Ketika pikiran tenang, stress menjauh. Hidup jauh dari stress, bahagia kan? Sehat kan? Lagipula segala macam peristiwa berasal dari tindakan kita, lalu jika diusut lagi tentu saja tindakan berawal dari sesuatu yang ada dipikiran kita. Sedangkan pikiran berawal dari?? Dari sini, menurut saya 😂

Kalaulah karakter dianggap sebagai sesuatu yang mempengaruhi tindakan, ya benar juga. Tapi jika dikulik terus-menerus, asalnya kembali lagi ke pikiran. Coba saja ditelaah, karakter itu adalah sifat yang mendarah daging. Kok bisa mendarah daging? Ya karena biasa dilakukan, sehingga sangat terbiasa, selalu diulang-ulang. Siapa yang mengizinkan pengulangan itu terjadi, bukankah pikiran 🙂 Ketika seseorang galau, kenapa galau terjadi? Karena digantungin gebetan? Ya macam-macam, galau bukan cuma perkara cinta-cintaan. Jadi jawaban yang tepat adalah karena pikiran dia mengizinkannya untuk galau, coba saja galau itu ditolak oleh pikiran, tidak di acc, pasti galau tidak terjadi. Disaat kita memegang gadget, kita bebas memilih untuk mengakses BBM untuk menghubungi orang tua (misalnya) atau stalking instagram mantan (eeeaaa). Jika pikiran kita ingin bahagia, pasti yang dipilih adalah aplikasi BBM. Sebaliknya jika ingin baper, ya buka instagram. So, apa yang hendak kita rasakan dan lakukan, ya pikiran kita yang memutuskan. Saya bukan penggemar Mario Teguh, dan tidak sedang menirukannya. Tapi betul-betul pikiranlah kunci segala macam keadaan yang kita jalani, akan berbahagiakah atau nelongso-kah. 

Bukankah motivator diseluruh belahan dunia manapun itu kerjaannya meng-upgrade semangat seseorang dengan cara mengubah paradigma atau cara pandangnya? Motivator itu sebenarnya hanya membolak-balikkan kata, jadi permainan kata. Kalau membolak-balikkan hati, jadinya permainan hati. Kaya lu ama doi #eh… Orang yang butuh motivasi sebenarnya hanya sedang berada dijalan yang tidak seharusnya, kalaupun berada dijalan yang seharusnya maka dia hanya kurang yakin. Tujuan motivasi tercapai ketika value yang disampaikan motivator di-iyakan oleh orang yang dimotivasi, “oh iya benar juga” atau “wah ini gue banget”. Artinya pikiran mereka sudah klop, berada disatu jalur. Jadi sudah yakin kan dengan pikiran kita? Luar biasa ya impact-nya.

“Kenapa sih, demen banget ngebahas pikiran, logika sama hati mulu?”

Kan sudah ditegaskan, pikiran itu kunci. Dan didalam pikiran ada peran logika dan hati. 

Lalu apalagi? Lanjut #part4 aja deh, jempol udah keriting 😂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s