#part2 Keseimbangan adalah Prinsip Alam

Setiap kecenderungan selalu membawa dampak. entah itu positif maupun negatif, dan dampak itu sadar atau tidak sadar pasti memengaruhi sikap manusia” (ElliyanaKa, 2014)

Contoh simpel untuk quote diatas, ketika hati seorang manusia jatuh cinta pada yang lainnya maka dia ingin memilikinya. Lalu dia pasti cenderung akan bersikap sebagaimana orang yang ingin memiliki, mendekati dan ingin lebih banyak mengenalnya. Jadi dari mana datangnya kecenderungan itu? Ya dari pikiran. Tentu saja sikap dan tindakan manusia tidak lain bersumber dari apa yang ada dipikirannya. Jangan tanya pikiran tempatnya di mana, jelas di otak. Tapi tanyakanlah, pikiran itu asalnya dari mana. Menurut saya, asalnya tersusun dari peran hati dan logika. Keduanya berbeda, tapi dalam skema berpikir dan pembentukan sikap manusia mereka saling melengkapi.

Hati adalah yang selalu diselimuti ambisi, keinginan, dan perasaan ingin selalu diuntungkan. Logika didominasi dengan pertimbangan dan realistis. Bicara tentang kecenderungan, anggaplah suatu kecenderungan itu adalah keadaan tidak seimbang. Kemudian kita asumsikan bahwa seimbang adalah ketika dominasi hati dan logika dalam pikiran sebesar 50 : 50. Lalu kita tahu, kecenderungan bisa membawa dampak positif, atau negatif. Maka menurut saya, positif atau negatifnya tinggal bagaimana komposisi dari dominasi antara hati dan logika.

Mari kita judge,

Ketika hati mendominasi, fokus kita hanya pada keinginan-keinginan yang membahagiakan kita. Tidak mau kehilangan, tidak mau susah, tidak mau ngalah, akhirnya apa? Cenderung egois. Betul? Iyakan saja, nyatanya memang seperti itu. Namanya juga sudah mendominasi, logika mau meredam hatipun tak akan mampu. Karena porsinya logika hanya sedikit, dia akan kalah.

Lalu ketika logika mendominasi, untuk setiap peristiwa akan dipertimbangkan dengan baik. Logika akan realistis, artinya dia akan melihat sekitar dan diapun memikirkan orang lain. Jikalau tak mungkin dipaksa, dia akan mengorbankan dirinya, lalu mengalah. Kata kuncinya adalah pertimbangan. Jadi mana kecenderungan yang positif, dan mana yang negatif? Yap! Positif itu ketika pikiran banyak didominasi sudut pandang logika, dan tidak semata-mata terracuni keinginan hati.

Skema sudah kita sepakati, seperti itu adanya. Yang jadi permasalahan adalah ketika banyak situasi mengatakan “wanita selalu benar” dan laki-laki harus sering-serinh mengalah. Hahaha! Setujukah jika kita membenarkan kembali #part1, wanita terlalu banyak menggunakan hati sementara logika banyak digunakan lelaki. Atau simpulkan saja sendiri. Agaknya, wanita sedikit menyebalkan ya kalau terus-terusan pakai hati, maunya menang sendiri, senjatanya nangis, bangga gitu dibilang sensitif perasaannya. Padahal jika kita gali lebih dalam sebenarnya ada banyak hal yang harus dibenahi dari situasi-situasi seperti itu. 

Satu lagi deh, sebelum tulisan ini berakhir. Ada satu contoh tindakan dari oknum yang pikirannya tidak seimbang. Kecenderungan negatif, dimana hati mendominasi lalu logika tidak berjalan. Kejadian ini adalah pengalaman pribadi yaitu ketika saya menjalin kedekatan dengan seorang lelaki sebut saja A.R.A. Dia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita namun karena suatu hal Ara mengakhiri hubungannya dengan wanita itu atas permintaan ibunya. Wanita itu sepertinya sulit untuk menerima keadaannya, terlihat sekali bagaimana ia begitu meratapi kehancuran hubungannya. Hubungannya berakhir kurang lebih pertengahan 2014, saat itu justru baru sekitar 1 bulan saya mengenal Ara. Saya dan Ara selalu berkomunikasi, karena kami memang dekat. Sampai awal 2015 tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa wanita itu berulah. Dengan seenaknya dia membuat postingan di sosial medianya bahwa dia merayakan anniversary hubungannya dengan Ara. Sayapun marah pada Ara, merasa dibohongi. Tapi Ara meyakinkan saya bahwa itu tidak benar. Seiring berjalannya waktu, Januari 2016 wanita itu berulah kembali. Lagi-lagi pencitraan di media sosial, seolah-olah hubungannya masih berjalan dengan Ara. Arapun akhirnya menegur wanita itu, apa maksud dari postingannya yang palsu itu. Wanita itu menjawab dia belum mampu menerima kenyataan dan itu adalah bentuk keegoisannya karena ingin merasakan anniversary. Silahkan dinilai sendiri, yang jelas segagal move on-nya kita janganlah menyangkal keadaan. Saling menghargai kehidupan masing-masing saja, karena setelah tidak lagi bersama kita, cepat atau lambat seorang mantan akan punya kehidupan baru yang tidak boleh diusik. Kan udah mantan!

Jadi benang merah permasalahan manusia didunia ini entah cinta, keluarga, karir dan lainnya kuncinya adalah pola pikir si manusia itu sendiri yang suka kebalik-balik dan tidak seimbang. Pepatah bilang, keseimbangan adalah prinsip alam. Jika anda hidup tak seimbang, anda menentang alam. Anda tak mungkin bahagia 😉

Advertisements

One thought on “#part2 Keseimbangan adalah Prinsip Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s