Cinta Munyuk (VI) Mama Bilang ‘Tidak!’

Lanjutan, dari postingan sebelumnya …

Beranjak dari kisah rumit penuh teka teki, gue udah lebih fokus dengan laki-laki yang setia membersamai gue waktu itu. Siapa lagi kalo bukan First*, meskipun kedekatan kita belum lama tapi gue merasa sangat nyaman dan pastinya sangat terhibur. Tadinya gue berpikir, kalo gue suka sama brondong ini gue dapet apa? Gue kira mentang-mentang dia lebih muda 1 tahun dari gue, dia lebih kekanakan dari gue dan dia ga bisa ngajarin gue apapun, yang ada malah gue ngajarin dia banyak hal karena dari segi pengalaman jelas menang gue. Tapi ternyata pemikiran gue salah besar, First* adalah sosok yang smart, kocak, dan sangat romantis. Smart yang dia punya itulah yang mematahkan pemikiran gue ternyata dia lebih dewasa dan bisa mengajarkan gue banyak hal, wajar makin lama akhirnya gue luluh sama dia.

Kebersamaan kita terus berlanjut, sampe pada suatu malam diawal bulan Agustus kita buka puasa bareng (kebetulan pas ramadhan). Kalo ga salah buka puasanya rame-rame sama anak BEM yang lain, karena keasyikan ngobrol jadi lupa waktu sampe larut malam. Seperti biasa, First* nganterin gue pulang. Sampai didepan kost kita masih lanjut ngobrol, ngobrolnya cukup serius hahaha, tentang perasaan. Tanpa disangka waktu menunjukkan pukul 23.30an lewat, lewat banyak lah 😂. Maka obrolan malam itu harus segera berakhir, tanpa disangka First* mengakhiri obrolan dengan menyatakan perasaannya untuk yang kedua kali. Tanpa pikir panjang gue mengiyakan. Ekspresi First* kocak banget keliatan dari mukanya, “jadi, sekarang aku punya pacar?” Hahaha maklum, menurut pengakuannya gue ini pacar pertama dia. Continue reading “Cinta Munyuk (VI) Mama Bilang ‘Tidak!’”

Advertisements

Cinta Munyuk (V) We Found Love in a Hopeless Place

2012. Udah lama ya? Emaaaaang! Sebagai mahasiswa angkatan 2011, maka diawal tahun 2012 gue dinyatakan akan menempuh semester dua. Ih apasih 😑
Hahaha, jujur bingung nih prolognya apa. Skip aja kali ya bagian prolog, langsung tunjeppoin aja. Setuju ya? Yang ga setuju pulang aja dah, bikin cerita sendiri sana.

Organisasi pertama yang bikin jatuh cinta, sorry no sensor.

Continue reading “Cinta Munyuk (V) We Found Love in a Hopeless Place”

Cinta Munyuk (IV) Semester Satu, Satu Semester

Sempat ragu-ragu untuk memutuskan lanjut atau nggak nuangin cerita ini ke blog. Satu sisi ini cuma sharing, ada lucunya dan ada pelajarannya, siapa tahu menginspirasi. Tapi siapa yang tahu juga kalo nanti ada orang berpikiran ini sharing aib, “aib kok diumbar-umbar“. Hehehe, terserah deh. Terserah gue maksudnya, blog-blog gue, isi ceritanya yang ngetik gue, kalo ga suka gausah dibaca, gitu aja selesai kali ye. Gue bukan semata-mata mengumbar aib, mungkin ada yang pernah tau gue dikehidupan nyata sebagai perempuan yang terlihat alim tapi mulutnya kaya anak STM. Ya emang semua orang pasti pernah punya sisi buruk, tapi bukan berarti dia tidak bisa menjadi baik. Ada kesempatan untuk berubah, dalam perubahan ada proses dan proses itu bertahap. Jadi intinya adalah, … Apa ya? Gue juga ga tau, suka-suka aja lah.

Di post sebelumnya rasanya gue masih belum memenuhi statement “masa SMA adalah masa paling indah”, karena ceritanya sial melulu. Tapi bukankah itu malah indah? Indah untuk disukurin, iya disukurin bukan disyukuri. Mau gimana lagi, gue ini pelupa. Yang bisa tinggal di ROM otak gue cuma hal-hal berkesan aja, jadi bahan tertawaan itu kan berkesan. Kesan konyol. Tapi sama halnya dengan mantan. Ketika gue gampang move on, berarti bukan salah gue yang gampang melupakan. Emang mantannya aja yang ga berkesan, bener kan?

Continue reading “Cinta Munyuk (IV) Semester Satu, Satu Semester”

Cinta Munyuk (III) Setelah Tukimin Pergi

Btw, kenapa cinta munyuk? Karena gue bukan monyet. Eh tapi gue juga bukan munyuk! Munyuk itu istilah jawa untuk anakan monyet, karena cinta monyet sudah terlalu mainstream. Itu aja sih, meskipun ada unsur faunanya tapi filosofi punya gue emang ga sebagus Raditya dika kalo bikin judul kaya; cinta brontosaurus, koala kumal, manusia setengah salmon dan fauna-fauna lain karya bang Radit. Gue masih akan bercerita tentang masa putih abu-abu, mempertanggungjawabkan statement “masa SMA adalah masa paling indah”. Maka dari itu gue juga masih nyari, dimana sisi indah masa SMA gue. 

Kisah cinta gue diSMA ternyata mentok disodara gue sekitar tahun 2009 akhir itu. Sejak saat itu sampe gue lulus SMA gaada lagi yang masuk catatan sipil sebagai pacar gue. Tapi tahun 2010 gue pernah naksir berat sama kakak kelas gue, namanya Anjar. Gue selalu pake nama asli nih, original ga pake sensor. Kalo yang bersangkutan tiba-tiba baca post ini yowes, namanya juga cinta munyuk.

Continue reading “Cinta Munyuk (III) Setelah Tukimin Pergi”

Cinta Munyuk (II) Rumput Tetangga Lebih Hijau

Ketika gue baru ngetik judul Cinta Munyuk (II) ini gue masih sangat terngiang-ngiang cerita sebelumnya, dipikir-pikir kok nggilani ya. Parah bener, ya ampun. Maafkan masa kecil princess yaa Allah, si gadis pipa peralon berseragam gombrong. Sekarang waktunya kilas balik ke masa putih abu-abu, aseeekkk..orang bilang masa SMA adalah masa paling indah, tapi gue agak mengkhawatirkan ending cerita ini. Takutnya gue salah udah masukin statement “masa SMA adalah masa paling indah”. Sebelumnya perlu gue informasikan, berkat perjuangan gue semasa SMP sebagai ninja hatori. Hormon pertumbuhan gue berproduksi dengan sangat baik dan gue tumbuh dengan normal, tinggi badan gue memasuki SMA udah lebih dari 160 cm. Tepatnya di tahun 2008, kalo berat badan sih belum mencapai 45 kg sepertinya. Seperti biasa, tahun ajaran baru sama dengan musim perkakas baru. Dan seperti agak trauma dengan seragam di SMP, gue mewanti-wanti emak gue biar ganti penjahit.

Continue reading “Cinta Munyuk (II) Rumput Tetangga Lebih Hijau”

Cinta Munyuk (I) Gadis Pipa Paralon

Sebagai seorang manusia yang tumbuh kemudian beranjak dewasa, siapa yang belum pernah merasakan jatuh cinta? Naksir, kasmaran, patah hati, manusiawi kan? Wajar kan? Tapi kalo soal php, selingkuh dan gagal move on sepertinya haram masuk kategori wajar ya. Itu namanya luar biasa, luar biasa aneh. Ga ada potekan, eh patokan..umur berapa manusia bisa tiba-tiba jatuh cinta. Karena cinta sendiri adalah hal yang abstrak, datang dan perginya tak terduga. Bener ga? Kalo ga yowes, karepmu. Kali ini rasanya sedikit ingin bernostalgia dengan masa lalu yang cukup nakal, gue ingin bercerita tentang sederetan kisah asmara gue dari yang pertama banget. Agak membuka aib sih, tapi…dikit doang kok 😅

Sebagaimana yang dikutip dari banyak quote; bahwa kadang seseorang hadir dalam hidup kita bukan untuk menjadi sesuatu, tapi untuk mengajarkan sesuatu. Ya kurang lebih gitu deh, dan terus terang gue belajar banyak dari orang-orang yang ber-tittle mantan itu. Hehehe #Terimakasih kalian…Barisan para mantan 🎤😌 (nyanyi)

Continue reading “Cinta Munyuk (I) Gadis Pipa Paralon”

#part5 Self Controlling

#part sebelumnya sudah banyak dibahas mengenai pikiran dan seperangkatnya, dan siapa lagi yang mengendalikan pikiran jika bukan diri sendiri. Maka pandai-pandailah mengontrol diri. Pepatah bilang, orang hebat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain. Melainkan orang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya, dalam situasi apapun. Jujur saja dari pengalaman pribadi, saya lelah. Meskipun masalah anak umur 22tahun bisa dibilang belum terlalu rumit, hanya sebatas cinta dan jati diri meniti karir untuk bekal masa depan. Tapi ketika salah satu saja diantara keduanya itu memenuhi pikiran, rasanya capek sekali. Misalnya hanya fokus pada urusan cinta saja, hanya berpikir soal dia dia dan si dia saja. Ketika cinta membuat kecewa, ambruklah saya. Serasa dunia menenggelamkan saya kedasar laut, padahal tidak bisa berenang. Habislah sudah. Tapi hukum kegagalan harus ditegakkan,

Continue reading “#part5 Self Controlling”