#part1 Wanita: Logika vs Hati

IMG00820-20140206-1824Wanita memang sejatinya mahluk Tuhan yang diciptakan dengan perasaan yang lebih “sensitif” (mungkin) dari pada pria. Tak heran jika ia sering galau, melankolis, gampang nangis. Entah sejak kapan, saya berpikiran bahwa sifat galau dan melankolisnya si wanita itu adalah faktor ‘logika yang terkalahkan oleh hati’. Mengapa demikian?

Hati, ia selalu identik dengan ego, dengan keinginan, dengan ambisi, ia hanya fokus pada apa yang ada dalam pikirannya. Pola pikirnya adalah pola yang hanya mau diuntungkan, sementara bila ia rugi? Sama sekali tak terpikirkan, apalagi sampai memikirkan dampak / efek dari suatu kejadian. Isi kepala, apapun itu ya itulah yang menjadi sudut pandang hati. Maka wajar jika masukan atau kritikan orang lain, tak mampu menggoyahkan keyakinan hati.

Lain halnya dengan logika, dimana ia bekerja dengan membuka mata, membuka telinga, dan mungkin akan membuka hati. Membuka mata dalam arti ia pun memandang suatu keadaan dibandingkan dengan lingkungan sekitar. Atau singkat katanya adalah ‘realistis’. Bagaimana mungkin seorang pemalas yang kerjanya hanya tidur dan bermalas-malasan, ingin membeli mobil mewah. Lihat dulu isi dompetnya, realistis bukan? itulah membuka mata. Hal yang kedua adalah membuka telinga, dimana logika biasanya sangat objektif. Maka ketika ia diberi masukan oleh orang lain, ia mampu menilai mana yang benar dan salah secara objektif. Jadi segala bentuk masukan ia akan terima dan ia olah dalam pikirannya untuk dipertimbangkan.

Tapi kembali pada realita masa kini, dimana wanita sulit sekali menerapkan logika dalam hidupnya. Bukan tidak pernah menerapkan, ya pernah. tapi sulit dan jarang sekali. Contoh simpel, ketika wanita membangun sebuah hubungan dengan pria. Sesering apapun pria itu menyakiti dia entah dengan berselingkuh, atau berkata kasar. Apa wanita itu akan langsung mengambil sikap dengan mengakhiri hubungannya? Mungkin ada yang bersikap demikian, tapi saya yakin hanya 1 diantara 20 orang yang akan seperti itu. Faktanya, kebanyakan wanita pasti memilih untuk marah-marah, memaki, menangis, meminta penjelasan. Setelah itu? ya setelah itu si pria minta maaf, dan masalah selesai. Semudah itukah? berarti kemarahan tadi bukanlah cerminan dari sikap, melainkan hanya sebuah pelampiasan. Alih-alih karena sudah terlanjur cinta, lantas ia memaafkan begitu saja. Padahal logikanya, senang berselingkuh, berkata kasar, itu adalah bagian dari karakter. Dan kita tahu bahwa karakter itu sulit dirubah, saat ini ia bisa berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa hal itu memang tidak akan terjadi lagi. Itu adalah hal logis yang sering diabaikan oleh wanita.

Contoh lain yang saya kutip dari salah seorang artis dan penulis ternama, Raditya Dika “cewe cantik mungkin aja pacaran sama cowo jelek, tapi cowo ganteng ga mungkin mau punya cewe jelek.” Itu kan jadi salah satu pembenaran, bahwa logika pria jauh lebih sering digunakan dari pada logika wanita. Wanita hanya butuh untuk disenangkan hatinya, tanpa perlu pertimbangan fisik dan yang lainnya, Sedangkan pria, pertimbangannya selalu lebih banyak. Lalu mengapa, mengapa hal ini dirasa sebagai suatu masalah? tentu saja masalah, karena setiap kecenderungan selalu membawa dampak. entah itu positif maupun negatif, dan dampak itu sadar atau tidak sadar pasti memengaruhi sikap manusia…(bersambung)

Advertisements

One thought on “#part1 Wanita: Logika vs Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s